Bandarkarima

Perguruan Seni Pencak

Pencak Silat

Pencak Silat

Oleh Seno Gumira Ajidarma

Dengan segala mistik dan misteri, melayari gelombang globalisasi.

Matahari belum lagi muncul ketika di tepi pantai itu sejumlah orang berbusana serba hitam tampak bersila dengan posisi tangan tertentu. Pandangan mata mereka terarah dengan tajam ke cakrawala, tempat matahari itu nanti akan muncul. Pantai itu merupakan bagian dari sebuah kampung di Kota Ternate, Maluku Utara. Tampak perahu-perahu nelayan, dan pada pagi itu orang-orang kampung yang melakukan kegiatannya sehari-hari di pantai tidak tampak terlalu heran.
Lantas matahari pun muncul. Sekian pasang mata dari orang-orang yang bersila itu tidak berkedip. Cahaya kuning merambat dan melenting sepanjang permukaan laut dan menyapu wajah-wajah mereka. Anjing lewat berjingkat. Ketam berlari di atas pasir. Namun konsentrasi mereka sama sekali tidak terganggu. Sampai tiba saat mereka, hampir secara bersamaan, merasa semua itu sudah cukup. Maka mereka akhiri sikap tubuh itu dengan suatu tarikan nafas panjang, gerak tangan tertentu, yang lantas dihembuskan dengan hentakan.


"Huuuah!"


Apakah yang sedang mereka lakukan? Itulah yang disebut menyerap energi matahari. Salah satu metode latihan perguruan silat Elang Emas yang diajarkan oleh guru mereka, Lukman Syaifullah Poli, 55. Bagaimana hal itu bisa dianggap akan benar-benar menyerap energi ke dalam tubuh? Sebaiknya pertanyaan ini kita tunda sampai mendengar cerita selanjutnya. Malam sebelumnya, dalam kegelapan ruang latihan, saya juga telah menyaksikan apa yang disebut menyerap tenaga api. Dalam ruang latihan, artinya rumah keluarga biasa yang meja kursinya dipinggir-pinggirkan, para murid perguruan yang sama berkonsentrasi menatap nyala lilin, juga dalam sikap tubuh dan tangan yang sama seperti ketika berlatih di pantai.


Selain menyerap energi matahari dan api, mereka juga melakukannya dengan cahaya rembulan pada malam bulan purnama setiap tanggal 15, 16, dan 17. Benarkah ini latihan pencak silat, dan bukan aliran kepercayaan tertentu? Tentu saja perguruan Elang Emas adalah sebuah perguruan pencak silat, yang di Maluku Utara disebut silap, dan tidak dimaksudkan untuk lebih dari itu. Namun apa yang disebut silat tradisional, di mana pun tempatnya di Indonesia, memang bukanlah sekadar seni beladiri maupun olahraga yang mempelajari jurus-jurus belaka. Bahkan dalam hal Elang Emas, demikian kata Lukman, "Dengan tenaga bantuan, seseorang yang belum pernah belajar jurus apapun seketika dapat bersilat ketika diperlukan."


Tidak sekadar bicara, keberadaan yang disebut ‘tenaga bantuan' ini diperagakan. Seorang muridnya diminta bermeditasi di tengah ruangan, dengan sikap yang sama seperti ketika berada di pantai. Lukman juga tampak berkonsentrasi, meski tetap duduk di kursi, bahkan tangan memegang rokok yang menyala. Hanya sejenak.


"Itu sudah masuk," katanya kepada saya.


Sang murid mendadak melompat bangkit dan bergerak dengan jurus-jurus silat. Sepintas seperti latihan silat biasa, tetapi jika diperhatikan sungguh-sungguh berbeda. Selain bahwa matanya terpejam, murid satu ini bagaikan tidak menjadi dirinya sendiri. Desah nafasnya terdengar terlalu jelas, dan matanya yang terpejam itu bukan tidak berakibat. Ia bersilat dengan gerakan silat-harimau, seperti bisa dilihat dari jurus-jurusnya, kadang menendang tembok, naik kursi, dan menabrak rak tempat hiasan di dinding sampai berantakan di lantai.


Apakah yang terjadi? "Dia seperti diajak bermain silat," ujar Lukman, tentang apa yang sebetulnya dilihat sang murid dengan mata terpejam. Peragaan ‘tenaga bantuan' ini diulangi sekali lagi, jika tadi dengan murid lelaki, kini dengan murid perempuan, yang kali ini memperagakan silat-kera, yang juga sampai melompat naik ke atas kursi, juga dengan mata terpejam dan nafas terdengar jelas. Tentu ada pertanyaan, tidakkah murid-murid ini sudah mempelajari jurus-jurusnya dan bersandiwara? Memang bisa diandaikan betapa jurus-jurus pernah dipelajari, tetapi bagaimana dijelaskan lompatan yang tepat dengan mata terpejam ke atas tepi meja, tanpa pernah kehilangan keseimbangannya?


Bagi saya, yang kemudian mengetahui cara murid ini bersilat dalam latihan tanding, jelas silat yang dimainkannya dengan mata tertutup ini jauh berbeda. Bukan sekadar dari kematangan dan keunikan geraknya, melainkan karena memang mustahil dimainkan seorang pelajar silat muda tingkat pemula. Itulah gaya bersilat yang mengingatkan saya kepada gaya Jackie Chan dalam film Drunken Master, yakni bersilat seperti orang mabuk yang seolah-olah selalu mau jatuh! Namun hal itu bukan saja tidak pernah terjadi, bahkan daya pukulnya terlihat menghentak keras sekali.
"Kalau Bapak menceritakan semua ini nanti di Jakarta," kata Lukman, "mungkin tidak ada yang akan percaya." Menurut Lukman, bahkan ‘tenaga bantuan' ini bisa diminta maupun dikirim dari tempat yang jauh. Istilah Lukman, "Tranfer jurus lewat alam mimpi." Saya teringat, waktu murid-muridnya disadarkan Lukman, mata mereka mengerjap seperti terbangun dari tidur panjang yang penuh mimpi. Pada gilirannya, murid-murid pada tingkat tertentu bahkan seperti telah memiliki ‘tenaga bantuan' ini di dalam dirinya. Meskipun begitu, pada dasarnya ‘tenaga bantuan' ini diandaikan dapat dimanfaatkan siapapun tanpa belajar.


Sepanjang liputan saya, dari ujung timur Ternate sampai ujung barat Tanjung Pinang di Riau, dengan berbagai nama yang berbeda, mulai dari ‘isi', ‘roh', ‘dia', ‘datuk', ‘guru', bahkan juga ‘setan', gejalanya adalah sama: Belajar ilmu silat bukanlah sekadar belajar menghafal dan mematangkan urutan jurus-jurus sebagai olahraga, apalagi demi kepentingan kesehatan, melainkan sebagai seni beladiri, dalam pengertian bahwa ancaman serangan sangat mungkin berlangsung dengan ‘ilmu gaib'. Nah!


Dalam kenyataannya, di dunia persilatan, apa yang disebut ‘gaib' itu adalah sesuatu yang sangat biasa. Mistik, jika boleh disebut begitu, merupakan bagian yang tidak terhindarkan dalam budaya pencak silat tradisional di Indonesia.


***


Ia tergeletak di sana dalam keremangan kamarnya, di sebuah rumah dengan bangsal besar yang mengingatkan saya kepada bangsal tempat bertarung Michelle Yeoh dan Zhang Ziyi dalam film Crouching Tiger, Hidden Dragon. Pada dindingnya terdapat lukisan batik besar seekor naga, yang memang memberikan suatu suasana kepada bangsal itu. Inilah ruang latihan perguruan silat Naga Pertapa Indonesia di Samarinda. Pendirinya, Maidin Hamid, 58, telah mempelajari pencak silat yang di Pulau Kalimantan disebut sebagai kuntao atau kuntauw, dari ayahnya, yang juga telah mendapatkannya dari kakeknya, sebagaimana memang biasa berlangsung dalam dunia pencak silat tradisional, yakni bahwa ilmunya diwariskan turun temurun.


Namun bukanlah seluk beluk rahasia ilmu silatnya itu yang menarik diceritakan di sini, melainkan bahwa sang guru dengan rendah hati masih terus menerus mencari ilmu, dalam suatu pengembaraan panjang selama tiga tahun lamanya berkeliling Indonesia. Apakah sang guru silat belum puas dengan status dan ilmunya sebagai suhu? "Bukan ilmu silat lagi yang saya cari, tetapi ilmu-ilmu," ujar Hamid, yang terpaksa tidur terus begitu karena sempat salah urat di tulang belakangnya, ketika mengangkat pot tanaman yang sangat berat.


Jadi, dengan mengendarai Vespa, dari tahun 2003 sampai 2006, Maidin Hamid tidak sungkan-sungkan bertandang dari guru yang satu ke guru yang lain di seluruh Indonesia, meskipun jika guru yang ingin ia pelajari ilmunya itu lebih muda. Belajar apa saja? "Ya apa saja kemampuan mereka, terutama dalam ilmu pengobatan," ujarnya. Maidin berkisah, misalnya ia berhenti untuk makan di sebuah warung, maka ia akan bertanya-tanya siapakah kiranya orang yang dianggap ‘pintar' di daerah tersebut. Dalam kebudayaan tradisional, seperti diketahui ‘pmtar' takberarti ia seorang intelektual, melainkan seseorang yang dianggap menguasai ilmu gaib di luar nalar. Jika pertanyaannya terjawab, maka ia titipkan skuternya di warung tersebut, dan mendatangi calon gurunya.


"Kalau orangnya betul-betul pintar, dia sudah tahu maksud kedatangan kita, seperti tadi saya sudah tahu maksud kedatangan sampean; dan kalau dia guru yang bener maka persyaratan yang dimintanya dari seorang murid tidak akan aneh-aneh, seperti minta kambing segala macam; yang begini pasti saya tinggal," kisahnya. Belajar ilmu gaib seperti itu tidak lama. "Kalau disuruh puasa, ya saya turuti puasa; nanti kalau sudah diisi, dia akan bilang ‘sudah' dan saya berangkat lagi," ujar Maidin. Demikianlah Maidin menjalani ritus pengembaraan dan mencari ilmu dalam dunia persilatan ini, sambil memperkenalkan perguruannya di setiap tempat yang disinggahinya, yakni membagi stiker Naga Pertapa Indonesia. "Kalau capek, saya berhenti, parkir, dan menggeletak begitu saja di tepi jalan," kisahnya, lagi, "terus nanti kalau ada orang lewat yang teriak, ‘Itu orang hidup atau orang mati?', saya jawab, ‘Orang hidup!'".


Kisah Maidin Hamid adalah ilustrasi tentang bagaimana tradisi budaya pencak silat di Indonesia, ternyata masih dihidupi secara tradisional juga. Sepintas lalu, kalau melihat jaket blue-jeans yang dikenakannya selama naik Vespa keliling Indonesia, yang bagian depannya nyaris tertutup emblem dan badge warna-warni, kita hanya berhadapan dengan seorang bikers yang sangat menikmati hidup. Namun seperti semua guru silat lain, Maidin sangat serius jika berbicara tentang mempertahankan pencak silat sebagai kekayaan budaya Indonesia. "Jenis beladiri yang kita pelajari ikut membentuk kepribadian kita," ujarnya, "jenis beladiri tertentu, kalau kita pelajari bisa membuat kita berangasan dan selalu ingin berkelahi; sebaliknya, pencak silat seolah-olah membuat kita jadi pengecut, karena perkelahian selalu kita hindari."


Adapun perkelahian itu harus dihindari, bukan sekadar karena alasan moral, seperti alangkah mulianya sikap mengalah dan sejenisnya, melainkan karena jurus-jurus pencak silat sebagai beladiri setahu mereka berbahaya sekali. Jika tidak mematikan, sedikitnya menyakiti. "Tidak heran jika IPSI mengatur mana jurus yang boleh dan tidak-boleh," tambahnya. IPSI adalah singkatan Ikatan Pencak Silat Indonesia yang berdiri sejak 1948, yang dengan gagasan keindonesiaannya, merupakan usaha pendekatan modern terhadap budaya tradisional ini, yang tentu saja menuntut berbagai penyesuaian kepada yang ingin bergabung ke dalamnya. Salah satunya, tentu, bahwa sebagai olahraga IPSI tidak membenarkan keberadaan jurus mematikan dan penggunaan unsur ‘gaib' dalam pertandingan. Namun bahkan IPSI pun mempertahankan agar budaya pencak silat tradisional itu tetap hidup mengarungi zaman.


***


Sampai hari ini, dalam dunia pencak silat tradisional, tradisi hubungan guru dan murid pada dasarnya masih sama. Sebutkanlah seperti yang saya liput di wilayah Lintau, Bukittinggi, Sumatera Barat. Pertama-tama sudah menjadi adat bahwa anak lelaki dalam keluarga, diandaikan sudah semestinyalah dapat bersilat untuk melindungi anggota keluarga yang perempuan. Ilustrasi untuk itu sangat menarik, seperti diceritakan Lazuardi, 60, guru pencak silat tradisional yang di wilayah Sumatera Barat disebut silek tuo dari aliran Kumango. "Biasa dikatakan kepada anak lelaki, ‘Engkau mesti belajar silat, jika tidak, bagaimana engkau akan melindungi adik perempuanmu dari para penggoda?' Sebaliknya, juga akan dikatakan, ‘Engkau mesti belajar silat, jika tidak, bagaimana engkau akan melindungi dirimu, dari pukulan keluarga calon istrimu?'" Pada masa lalu, perasaan cinta seorang lelaki agaknya diekspresikan dengan lalu lalang di muka rumah perempuan yang telah membuatnya rindu dendam.


Penguasaan pencak silat sebagai bagian dari upacara kehidupan, dengan begitu betul-betul mendapatkan maknanya. Maka seorang ayah akan membawa anak lelakinya ke hadapan seorang guru pencak silat, menyerahkannya untuk diberi pelajaran, yang artinya juga menyerahkannya untuk diberi ‘isi'. Lantas sang guru, seperti disampaikan Sutan Ibrahim Datuk Mustafa, 70, guru terakhir silat Lintau, akan menyebut penyerahan syarat-syarat yang semuanya mempunyai arti simbolik, yakni pisau (agar melekat manfaatnya), beras 1 kilogram (agar jangan membebani), pisang (untuk ke-manis-an), kain putih (untuk kesucian), ayam, yang setelah disembelih darahnya akan diteteskan sekeliling gelanggang (supaya jangan terdapat perpecahan antar murid). Lazuardi menambahkan, upacara semacam itu sekaligus mengikat gurunya untuk bersumpah, bahkan, Menurut Qur'an", bahwa ia akan menurunkan seluruh ilmunya.


Memang terdapat mitos dalam dunia pencak silat tradisional, bahwa seorang guru tidak akan pernah menurunkan seluruh ilmunya. Mitos ini juga terhubungkan dengan cerita, bahwa tak jarang setelah pelajaran selesai, seorang murid malah mencoba ilmunya itu dengan menantang gurunya. Menghadapi kasus semacam itu, "Kalau punya tujuh, kasihkan lima," ujar seorang guru. Jadi menghadapi murid yang ‘murtad', sang guru masih memiliki jurus rahasia. Tradisi lain, berbeda dengan perguruan silat modern, latihan tertentu, terutama momen pemberian ‘isi', pada perguruan silat tradisional tidak boleh disaksikan orang luar. Kerahasiaan memang merupakan salah satu ciri.


Masalahnya, meski setelah sang guru bersumpah, apakah dengan begitu lantas seluruh ilmu diturunkan kepada semua murid tanpa seleksi? Secara tradisional, proses itu memang ada. Pertama, akan ditanya dulu murid itu, silatnya nanti untuk apa, dan akan ditekankan kepadanya betapa dia nanti harus jadi orang yang selalu mengalah, karena silat itu merupakan ‘pemelihara' diri. Kedua, akan dilihat watak sang murid, yang diperiksa lewat ilustrasi berikut: Sang guru akan mengajak mereka ke hutan, dengan masing-masingnya membawa parang. "Nanti akan terlihat bagaimana masing-masing bersikap ketika memegang parang," kisah Datuk Mustafa, "apakah ia akan main babat saja segala batang dan semak dengan sembarangan, atau menggunakannya hanya kalau perlu saja."


Sampai di sini, tidak ada cerita seorang guru meminta bayaran. Jadi memang tidak ada spesialisasi pekerjaan guru silat pada masyarakat tradisional, karena seorang guru silat adalah juga seorang petani, nelayan, penjual tahu, atau apapun yang menjadi sumber penghasilan sehari-hari warga biasa. Bagi yang mampu dapat membayar sukarela, bagi yang tidak mampu takperlu membayar apa-apa. Menurunkan ilmu merupakan kewajiban dalam adat, jika ingin kebudayaannya tetap bertahan, karena silat memang bukan sekadar ilmu beladiri. Sebagai pertunjukan, silat merupakan bagian dari berbagai macam upacara adat yang penting, seperti misalnya perkawinan. Dalam adat Minangkabau, demikian Datuk Mustafa, silat merupakan satu dari tiga tonggak kehidupan manusia, yang terdiri dari beradat, mengaji, dan silek. Namun jika segala macam adat sekarang ini mengalami kelunturan, apakah juga berlangsung dalam dunia pencak silat?


Maka Lazuardi pun berkisah, "Dahulu, yang disebut surau, terbuka bagi semua orang. Di sanalah, berlangsung segala macam bentuk pembelajaran, dari shalat sampai silat. Sekarang tiada lagi surau di kampung kami, diganti oleh musholla, yang selalu terkunci, dan hanya terbuka pada waktu shalat. Belum lagi dengan setiap rumah punya TV sekarang, minat belajar silat dari masyarakat menurun. Anehnya, murid-murid yang datang dari luar negeri makin banyak. Saya punya murid dari Belanda yang akhirnya bahkan masuk Islam. Bangga, tapi juga prihatin."


Lazuardi adalah contoh betapa untuk bertahan, para pesilat harus sekaligus menjadi pejuang kebudayaan. Adalah Lazuardi yang mengaku hanya lulus SD, tetapi memiliki kesadaran pentingnya dokumentasi, sehingga ia mengusahakan direkamnya jurus-jurus pencak silat Kumango ke dalam DVD. Ini berarti, seharusnya ia pun sudah siap jika pencak silat tradisional yang semula menempatkan guru di tempat yang tinggi, tergantikan tempatnya oleh media rekam tersebut. Tanpa syarat-syarat, tanpa upacara adat, tetapi juga tentunya tanpa "isi". Apakah ini berarti, sang guru silat harus menjadi penjual DVD? "Dana adalah masalah utama yang menghambat perkembangan pencak silat," ujarnya, "untuk ketemu Bapak ini misalnya, saya harus meninggalkan ladang cabe. Tapi demi pencak silat, saya menganggapnya perlu."

 

Sumber: http://www.nationalgeographic.co.id